MAKALAH TENTANG ANEMIA PADA IBU HAMIL
DI SUSUN
O
L
E
H
NAMA : SORFINA ROZA
NIM : 14211594
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
TA 2015/2016
Makalah Tentang Anemia pada Ibu Hamil
- LATAR BELAKANG
Anemia merupakan kekurangan zat besi yang biasa diderita oleh wanita
hamil pada dasarnya anemia merupakan masalah rasional dan berpengaruh
sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia.
Menurut WHO kejadian anemia hamil berkisar antara 20%-89% dengan
menetapkan Hb 11 gr% sebagai dasarnya. Angka anemia kehamilan di
Indonesia menunjukkan nilai yang cukup tinggi. How Swie Tjioeng
menemukan angka anemia kehamilan 3,8% pada trimester I, 13,6% pada
trimester II, dan 24,8% pada trimester III. Akrib Sukarman menemukan
sebesar 40,1% di Bogor. Bakta menemukan 50,7% di Puskesmas kota Denpasar
sedangkan Sindu menemukan 70% ibu hamil di Indonesia menderita anemia
kurang gizi.
Selain itu didaerah pedesaan banyak dijumpai ibu hamil dengan
malnutrisi atau kekurangan gizi; kehamilan dan persalinan dengan jarak
yang berdekatan; dan ibu hamil dengan pendidikan dan tingkat sosial
ekonomi rendah.
- PENGERTIAN
Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi, jenis
anemia yang pengobatannya relatif mudah, bahkan murah. Anemia pada
kehamilan merupakan masalah nasional karena mencerminkan nilai
kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat, dan pengaruhnya sangat besar
terhadap kualitas sumber daya manusia.
Anemia hmil disebut ” potential danger to matter and child (potensial
membahayangkan ibu dan anak) ”, karena itulah anemia memerlukan
perhatian khusus dari semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan
pada lini terdepan.
Baik di negara maju maupun di negara berkembang, seseorang disebut
menderita anemia bila kadar Hemoglobin (Hb) kurang dari 10 gr %, disebut
anemia berat atau bila kurang dari 6 gr %, disebut anemia gravis.
Wanita tidak hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12 – 15 gr % dan
hematokrit 35-54 %, angka – angka tersebut juga berlaku untuk wanita
hamil, terutama wanita yang mendapat pengawasan selama hamil. Oleh
karena itu, pemeriksaan hematokrit dan hemogloblin harus menjadi
pemeriksaan darah rutin selama pengawasan antenatal. Sebaiknya
pemerintahan dilakukan setiap 3 bulan atau paling sedikit 1 kali pada
pemeriksaan pertama atau pada triwulan pertama dan sekali lagi pada
triwulan akhir.
Penyebab anemia umumnya adalah :
- Kurang gizi ( malnutrisi )
- Kurang zat besi dalam diet
- Malabsorpsi
- Kehilangan daerah yang banyak : persalinan yang lalu, haid, dll
- Penyakit-penyakit kronik : tbc, paru, cacing usus, malaria, dll
Dalam kehamilan, jumlah darah bertambah ( hiperemia / hipervolumia
)karena itu terjadi pengenceran darah karena sel-sel darah tidak
sebanding pertambahannya dengan plasma darah. Perbandingan tersebut
adalah :
- Plasma darah bertambah : 30%
- Sel-sel darah bertambah : 18%
- Hemoglobin bertambah : 19%
Secara fisiologis, pengeceran darah ini adalah untuk membantu meringankan kerja jantung.
a.1.1. Bentuk-bentuk Anemia
1. Anemia defresiasi besi (62,3%)
Anemia jenis ini biasanya berbentuk normositik dan hipokromik serta banyak dijumpai. Penyebabnya sebagai penyebab anemia umumya.
Pengobatan :
Keperluan zat besi untuk wanita hamil, non-hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah :
FNB Amerika Serikat (1958) : 12 mg-15mg-15mg
LIPI Indonesia (1968) : 12mg-17mg-17mg
Kemsan zat besi dapat diberikan peroral atau parenteral
Peroral : sulfas ferasus ata glukonas ferosus denan dosis 3-5×0,20 mg
Parenteral : diberikan bila ibu hamil tidak tahan
pemberian peroral atau absorbsi di saluran pencernaan kurang baik,
kemasan diberikan secara intramuskuler atan intravera. Kemasan ini
antara : imferon, jectofer dan ferrigen.
Hasil lebih cepat dari pada peroral.
a.1.2. Anamia Megaloblastik biasanya berbentuk makrositik atau pernisiosa penyebab:
Kekurangan asam folik
Kekurangan Vit B12
Malnutrisi dan infeksi yang kronit
Pengobatan
Asam Folik 15 – 30 mg per hari
Vit B12 3×1 tablet per hari
Sulfas Ferosus 3×1 tablet per hari
Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban maka dapat diberikan tanfusi darah.
a.1.3 Anemia hipoplasti (8,0%)
Disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang belakang, membentuk sel-sel
darah merah baru. Untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan :
Darah tepi lengkap
Pemeriksaan fungsi sternal
Pemeriksaan retikulosh
Penyebab belum diketahui pasti, kecuali yang disebabkan oleh infeksi
berat (sepsis), keracunan, dan sinar rontgen atau sinar radiasi
Pengobatan :
Terapi dengan obat-obatan tidak memuaskan mungkin pengobatan yang
paling balik yaitu transfusi darah yang yang perlu sering diulang.
a.1.4. Anemia Hemolitik ( sel sickle )(0,7%)
Disebabkan penghancuran / pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya.
Ini dapat disebabkan oleh :
a) faktor intrakorpuskoler : dijumpai pada anemia hemolitik,
heriditer, talasemia, anemia sel sitkle (sabit), hemoglobinopati
C,D,G,H,I dan paraksimal noktural hemoglobinuria.
b) Faktor ekstrakorpuskoler : disebabkan malaria, sepsis,
keracunan zat logam dan dapat beserta obat-obatan : leukimia, penyakit
hodgkin,dll.
Gejala utama :
Anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah
Kelelahan dan kelemahan
Gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital
Pengobatan
Bergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya, bila
disebabkan oleh infeksinya diberantas dan diberikan obat-obatan penambah
darah. Namun pada beberapa jenis obat-obatan, hal ini tidak memberi
hasil. Maka transfusi darah yang berulang dapat membantu penderita.
B. Pengaruh Anemia pada Kehamilan
1. Pengaruh anemia terhadap kehamilan
a. Bahaya selama kehamilan
- Dapat terjadi abortus
- Persalinan prematuritas
- Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim
- Mudah terjadi infeksi
- Ancaman dekoinpensasi kordis (Hb < 6 gr%)
- Mola Hidatidosa
- Hiperemesis Gravidarum
- Pendarahan antepartum
- Ketuban pecah dini ( KPO )
b. Bahaya saat persalinan
- Gangguan his – kekuatan mengejan
- Kala pertama dapat berlangsung lama, dan terjadi portus terlantai
- Kala kedua berlangsung lama sehingga dapat melelehkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan.
- Kala uri dapat diikuti retensio plasenta, dan pendarahan postpartum karena atonia uteri
- Kala keempat dapat terjadi pendarahan post partum sekunder dan atonia uteri
c. Pada Kala nifas
- Terjadi subinvolusi uteri menimbulkan pendarahan post partum
- Memudahkan infeksi puerpertum
- Pengeluaran ASI berkurang
- Terjadinya dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan
- Anemia kala nifas
- Mudah terjadi infeksi mainmae
2. Bahaya terhadap janin
Akibat anemia dapat terjadi gangguan dalam bentuk :
- Abortus
- Terjadi kematian intro uterin
- Persalinan prematuritas tinggi
- Berat badan lahir rendah
- Dapat terjadi cacat bawaan
- Bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinantal
- Intelegensi lemah
SUMBER PUSTAKA
Manuaba, Ida Bagus Gede.1998, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan, EGC, Jakarta.
Mochtar, Rustam. 1998, Sinopsis Obstetri, Jilid I, EGC Jakarta.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar