KEHAMILAN LETAK LINTANG
DI SUSUN
OLEH
NAMA : SORFINA ROZA
D III KEBIDANAN
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
TA 2015/2016
BAB I
DI SUSUN
OLEH
NAMA : SORFINA ROZA
D III KEBIDANAN
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
TA 2015/2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Letak lintang merupakan salah satu malpresentasi janin yang dapat
menyebabkan kelambatan atau kesulitan dalam persalinan. Letak lintang merupakan
keadaan yang berbahaya karena besarnya kemungkinan risiko kegawatdaruratan pada
proses persalinan baik pada ibu maupun janin.
Pada penelitian yang dilakukan di RSUP Dr.Pirngadi, Medan dilaporkan angka
kejadian letak lintang sebesar 0,6 %; RS Hasan Sadikin bandung 1,9 %; RSUP
Dr.Cipto Mangunkusumo selama 5 tahun 0,1 % dari 12.827 persalinan; sedangkan
Greenhill menyebut angka 0,3 % dan Holland 0,5-0,6 %. Bila persalinan
letak lintang dibiarkan tanpa pertolongan akan dapat menyebabkan kematian baik
pada ibu maupun janin. Ruptur uteri, perdarahan dan infeksi berakibat fatal
bagi ibu sedangkan pada janin bisa terjadi prolapsus umbilikus, asfiksia hingga
berlanjut pada kematian janin.
Letak lintang adalah suatu keadaan di mana janin melintang di dalam uterus
dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong berada pada sisi yang lain.
Pada umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada kepala janin,
sedangkan bahu berada pada pintu atas panggul. Kelainan letak pada janin ini
termasuk dalam macam-macam bentuk kelainan dalam persalinan (distosia). Distosia
adalah kelambatan atau kesulitan persalinan. Dapat disebabkan kelainan tenaga
(his), kelainan letak dan bentuk janin, serta kelainan jalan lahir. Angka
kejadian letak lintang sebesar 1 dalam 300 persalinan. Hal ini dapat terjadi
karena menegakkan diagnosis letak lintang dapat dilihat pada kehamilan muda
dengan menggunakan ultrasonografi 3. Letak lintang terjadi pada 1 dari 322
kelahiran tunggal (0,3%) baik di Mayo Clinic maupun di University of Iowa
Hospital, USA. Di Parklannd Hospital, dijumpai letak lintang pada 1 dari 335
janin tunggal yang lahir selama lebih dari 4 tahun 2.
Sebaiknya diusahakan mengubah menjadi presentasi kepala dengan versi luar.
Persalinan letak lintang memberikan prognosis yang jelek baik terhadap ibu
maupun janinnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kematian janin pada letak
lintang di samping kemungkinan terjadinya letak lintang kasep dan ruptur uteri,
juga sering akibat adanya tali pusat menumbung serta trauma akibat versi
ekstraksi untuk melahirkan janin, Berdasarkan uraian di atas maka kami perlu
menguraikan permasalahan dan penatalaksanaan pada kehamilan dengan janin letak
lintang.
B. Tujuan
Penulisan
Adapun
tujuan penulisan makalah ini adalah :
a.
Untuk
menyelesaikan tugas makalah ASKEB II PATOLOGIS
b.
Untuk
menambah wawasan terhadap letak lintang janin di dalam rahim
c.
Untuk
mengurangi resiko kegawadaruratan pada ibu dan janin
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Letak lintang ialah suatu kehamilan dimana letak janin melintang terhadap
rahim ibu, atau sumbu panjang janin melintang terhadap sumbu panjang ibu.
Sesungguhnya tidak ada letak lintang sejati, atau letak lintang dimana sumbu
panjang janin dan ibu membentuk sudut 90o. Biasanya letak anak itu seikit
miring, dengan bokong atau kepala yang lebih rendah mendekati pintu atas
panggul.
Letak lintang lebih penting artinya dibandingkan presentasi bokong, karena
pada umumnya letak lintang tidak dapat dilahirkan pervaginam sehingga jika
tidak mendapat pertolongan, akan menimbulkan bahaya besar baik terhadap anak
ataupun ibu.
B. Klasifikasi
Letak Lintang
Letak lintang dapat dibagi menjadi 2 macam, yang
dibagi berdasarkan:
1.
Letak kepala
a. Kepala anak
bisa di sebelah kiri ibu
b. Kepala anak
bisa di sebelah kanan ibu
2.
Letak punggung
a. Jika
punggung terletak di sebelah depan ibu, disebut dorso-anterior
b. Jika
punggung terletak di sebelah belakang ibu, disebut dorso-posterior
c.
Jika
punggung terletak di sebelah atas ibu, disebut dorso-superior
d. Jika
punggung terletak di sebelah bawah ibu, disebut dorso-inferior
Frekuensi
letak lintang dalam literatur disebutkan sekitar 0,5%-2%. Sedangkan di
Indonesia sekitar 0,5%. Letak lintang lebih banyak pada multipara daripada
primipara, karena yang menjadikan letak lintang pada umumnya hampir sama dengan
kelainan yang menyebabkan presentasi bokong.
Namun harus
dikemukakan satu faktor yang terpenting , yaitu jika ruang rahim memberi
kesempatan bagi janin untuk bergerak lebih leluasa. Ini mungkin, jika dinding uterus
dan dinding perut ibu sudah begitu lembek, misalnya pada wanita
grandemultipara, atau malah pada panggul sempit.
C. Etiologi
Penyebab
dari letak lintang sering merupakan kombinasi dari berbagai faktor, sering pula
penyebabnya tetap merupakan suatu misteri. Faktor – faktor tersebut adalah :
a.
Fiksasi
kepala tidak ada, karena panggul sempit, hidrosefalus, anensefalus, plasenta
previa, dan tumor – tumor pelvis.
b.
Janin sudah
bergerak pada hidramnion, multiparitas, anak kecil, atau sudah mati.
c.
Gemelli
(kehamilan ganda)
d.
Kelainan
uterus, seperti arkuatus, bikornus, atau septum
e.
Lumbar
skoliosis
f.
Monster
g.
Pelvic
kidney dan kandung kemih serta rektum yang penuh.
Sebab
terpenting terjadinya letak lintang ialah multiparitas disertai dinding uterus
dan perut yang lembek.
D. Diagnosis
1. Inspeksi
: Perut membuncit ke samping
2. Palpasi
-Fundus
uteri lebih rendah dari seharusnya tua kehamilan
-Fundus
uteri kosong dan bagian bawah kosong, kecuali kalau bahu sudah masuk ke dalam
pintu atas panggul
-Kepala (ballotement)
teraba di kanan atau di kiri
3.
Auskultasi
: Denyut jantung janin setinggi pusat kanan atau kiri.
4.
Pemeriksaan
dalam (vaginal toucher)
- Teraba tulang iga, skapula, dan
kalau tangan menumbung teraba tangan. Untuk menentukan tangan kanan atau kiri
lakukan dengan cara bersalaman.
- Teraba bahu dan ketiak yang bisa
menutup ke kanan atau ke kiri. Bila kepala terletak di kiri, ketiak menutup ke
kiri.
- Letak punggung ditentukan dengan
adanya skapula, letak dada dengan klavikula.
- Pemeriksaan dalam agak sukar
dilakukan bila pembukaan kecil dan ketuban intak, namun pada letak lintang
biasanya ketuban cepat pecah.
E. Mekanisme Persalinan Pada Letak Lintang
Anak normal yang
cukup bulan tidak mungkin lahir secara spontan dalam letak lintang. Janin hanya
dapat lahir spontan, bila kecil (prematur), sudah mati dan menjadi lembek atau
bila panggul luas.
Beberapa cara janin lahir
spontan :
Evolutio
Spontanea
a. Menurut DENMAN
Setelah bahu lahir kemudian diikuti bokong, perut, dada, dan akhirnya
kepala..
b.
Menurut DOUGLAS
Bahu diikuti oleh dada, perut, bokong dan akhirnya kepala.
Conduplicatio Corpore
Kepala dan perut berlipat bersama – sama lahir
memasuki panggul kadang – kadang oleh karena his, LL berubah spontan mengambil
bangun semulka dari uterus menjadi letak membujur, kepala / bokong namun hal
ini jarang sekali terjadi. Kalau LL dibiarkan maka bahu akan masuk kedapam
panggul , turun makin laama makin dalam kedalam rongga panggul terisi
seluruhnya oleh badan janin. Bagian korpus uteri mengecil sedang SBR meregang.
Hal ini disebut dengan letak lintang kasep = neglected transverse lie
Adanya LL kasep dapat diketahui bila ada
ruptura uteri mengancam : bila tangan dimasukkan kedalam cavum uteri terjepit
antara janin dan panggul serta dengan narkosa yang dalam tetap sulit merubah
letak janin
Gambar 4. Conduplicatio
Corpore
Bila tidak cepat diberikan pertolongan akan terjadi ruptura uteri dan
janin sebagian atau seluruhnya masuk kedalam rongga perut.
Pada LL biasanya
a. Ketuban
cepat pecahnya
b. Pembukaan
lambat jalannya
c.
Partus jadi
lebih lama
d. Tangan
menumbung (20-50%)
e.
Tali pusat
menumbung (10%)
F.
Penanganan
Pada Letak Lintang
Saat Hamil
Pada saat
hamil, pada usia kehamilan 34-36 minggu dapat dianjurkan untuk dilakukan knee
chest position sampai usia kehamilan >36 minggu. Setelah itu , jika masih
dalam letak lintang, maka dapat dilakukan versi luar jika syarat memenuhi
Saat Persalinan
Ada dua hal
yang harus diperhatikan dalam pertolongan persalinan pada letak lintang, yaitu
ketuban dan pembukaan.
Tingkat
pertolongan
1.
Jika ketuban belum pecah, dan pembukaan masih
kecil (<4cm), dapat dicoba untuk.
Usahakan jadi letak membujur (kepala atau bokong) dengan melakukan versi
luar pada primi dengan usia kehamilan 34-38 minggu, atau multi pada kehamilan
36-38 minggu.
Dalam persalinan janin dapat dilahirkan dengan cara pervaginam, yaitu
dengan:
' Versi dan ekstraksi
' Embriotomi (dekapitasi-eviserasi) bila janin sudah meninggal
Syarat versi:
' Diameter pembukaan <4 cm
' Ketuban belum pecah
' Anak hidup
' Dapat lahir pervaginam
' Bagian terendah masih dapat didorong keatas
Kontra indikasi versi:
' Syarat tidak terpenuh
' Keadaan yang membahayakan ibu dan anak : plasenta previa/solution plasenta
hipertensi /preeklamsia cacat rahim
' Gemeli
' Tanda ruptura uteri imminens
' Primi tua
Menurut Eastman dan Greenhill.
-
Bila ada panggul sempit seksio sesarea adalah
cara yang terbaik dalam segala letak lintang, dengan anak hidup.
-
Semua primi gravida dengan letak lintang harus
ditolong dengan seksio sesarea walaupun tidak ada panggul sempit.
-
jika
pembukaan 5cm Tunggu sampai hampir lengkap ketuban dipecahkan
2.
Namun jika pembukaan sudah besar, versi luar
sangat tidak dianjurkan. Dalam hal ini ketuban harus dijaga jangan sampai pecah
dan ibu diminta berbaring miring dan dilarang mengejan. Ditunggu sampai pembukaan
lengkap, setelah lengkap , ketuban dipecahkan dan dilakukan versi ekstraksi. Versi yang dilakukan secara kombinasi, dimana terdapat
dua macam tindakan, yaitu versi , dan ekstraksi. Versi ini dilakukan pada
pembukaan lengkap.
Indikasi pada versi ekstraksi:
' Anak kedua gemelli
letak lintang
' Letak kepala dengan
prolaps tali pusat
' Presentasi dahi
Kontra indikasi pada versi ekstraksi:
' Ruptur uteri
' Cacat rahim (bekas
SC)
Syarat dilakukan versi ekstraksi
' Pembukaan lengkap
' Ketuban belum
pecah/ baru pecah
' Janin belum masuk
pintu atas panggul
' Dinding rahim
harus rileks, karena itu harus dilakukan dalam keadaan narkose umum.
3.
Jika ketuban sudah pecah, dan pembukaan belum
lengkap, maka seksio sesarea adalah jalan terbaik. Meskipun pada literatur lama
mengatakan dapat ditunggu sampai lengkap dan dilakukan versi ekstraksi, namun
mungkin hal ini tidak relevan lagi pada masa sekarang.
4.
Jika pembukaan sudah lengkap, maka
perlu diketahui apakah sudah terjadi letak lintang kasep atau belum.
5.
Jika
sudah terjadi letak lintang kasep, cara mengetahuinya adalah dengan mencoba
mendorong bagian terbawah janin, jika tidak dapat didorong lagi, maka dapat
ditegakkan diagnosis letak lintang kasep. Penatalaksanaanya adalah dengan
melihat anak hidup atau sudah mati.
6.
Jika
anak masih hidup, maka segera dilakukan seksio sesarea. Namun jika anak
mati, dapat dipertimbangkan untuk dilakukan embriotomi.
7.
Jika
belum terjadi letak lintang kasep, maka dapat dicoba untuk dilakukan versi
ekstraksi.
G.
Dampak
Persalinan Lintang
Bahaya yang
dapat terjadi pada kelainan letak lintang. Pada persalinan yang tidak di
tangani dengan benar, dapat terjadi Robekan rahim, dan akibatnya:
Bahaya bagi
ibu
a.
Perdarahan
yang mengakibatkan anemia berat
b.
Infeksi
c.
Ibu syok dan
dapat mati
Bahaya bagi janin
d.
Janin
mati. (Poedji Rochjati, 2003).
H. Asuhan Kebidanan pada ibu dengan kehamilan Letak
lintang
a. Menjelaskan kepada ibu tentang
kondisinya saat ini.
b. Menjelaskan kepada ibu tentang
posisi janin ibu yang kemungkinannya janin ibu letaknya melintang berdasarkan
pemeriksaan yang dilakukan.
c. Memberi contoh dan menganjurkan ibu
untuk melakukan kneechest atau posisi lutut dada, setiap hari minimal 2 kali
sehari selama ± 5 menit, untuk mengembalikan posisi bayinya menjadi presentasi
kepala.
d. Menjelaskan kepada ibu tentang
komplikasi bagi ibu dan janin yang bisa ditimbulkan dari kelainan letak
lintang.
e. Menganjurkan ibu untuk melakukan
pemeriksaan USG (pada dokter ahli kebidanan yang telah ditunjuk oleh bidan)
untuk memastikan letak janin dan mengetahui penyebab dari letak lintang.
f. Merujuk ibu ke dr tersebut untuk
penanganan selanjutnya.
g. Menganjurkan ibu untuk kunjungan
ulang dua minggu lagi atau jika ada keluhan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Letak lintang Adalah bila sumbu memanjang janin jadi menyilang sumbu
memnajang ibu secara tegak lurus atau mendekati 90°, pada keadaan ini persalinan
tidak dapat berjalan spontan karena ukuran letak janin yang melintang dan
ukuran terbesar tidak bisa melalui jalan lahir, kecuali pada anak kecil
(prematur) atau anak yang sudah mati dan menjadi lembek, keadaan ini dapat
berakibat pada terjadinya ruptur uteri, partus lama, KPD dan sudah terjadi
infeksi, pada anak trauma partus, hipoksia,prolaps tali pusat dan KPD
(Cuningham, 1995).
B. Saran
a.
Untuk para
ibu yang sedang hamil untuk rutin memeriksakan kehamilanyya ke tenaga
kesehatan yang berwenang.
b.
Apabila
diketahui ada kelainan letak pada janin maka anjurkan ibu untuk USG
c. Bila hasil mendapatkan letak lintang
anjurkan ibu untuk latihan dan melakukan kneechest atau posisi lutut dada,
setiap hari minimal 2 kali sehari selama ± 5 menit, untuk mengembalikan posisi
bayinya menjadi presentasi kepala.
d.
Bagi tenaga
kesehatan yang belum mahir jangan sekali2 berani melahirkan letak lintang
DAFTAR
PUSTAKA
S. A.
Goelam. arts. Imu Kebidanan. Balai Pustaka Djakarta. 1958
Obstetri
Patologi. (1984). Bandung: Bag. Obstetri dan Ginekologi FK UNPAD Bandung.
Mochtar, D. 1998. Letak Lintang (Transverse Lie) dalam Sinopsis
Obstetri : Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi 2ndeds. EGC.
Jakarta.
Llweilyn. Jones, D. 2001. Kelainan Presentasi Janin dalam Dasar
– dasar Obsteri & Ginekologi. Hipokrates. Jakarta




Tidak ada komentar:
Posting Komentar